Kamis, 15 Mei 2014

Perkembangan Kecambah dalam Gelap dan Terang

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Salah satu ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan merupakan bertambahnya jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif  dapat diukur atau suatu peningkatan dalam berat atau ukuran dari seluru/sebagian dari organisme, sedangkan perkembangan merupakan bertambahnya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh, kematangan dan belajar atau peningkatan kemahiran dalam penggunaan tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang saling berhubungan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pekembangan tumbuhan. Faktor-faktor tersebut dikelompokan menjadi 2, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal  merupakan faktor yang meliputi faktor genetis (hereditas) dan factor fisiologis, sedangkan faktor eksternal atau faktor lingkungan merupakan faktor yang berasal dari luar tubuh tumbuhan tersebut yaitu dari lingkungan atau ekosistem. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan adalah cahaya (Naufal, 2013).
Perkembangan memerlukan suhu yang cocok, banyaknya ir yang memadai, dan persediaan oksigen yang cukup. Periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji sebagai contoh, biji buah apel hanya dapat berkecambah setelah masa dingin yang lama. Ada bukti bahwa perkecambahan kimia terbentuk di dalam bijinya ketika terbentuk. Pencegahan ini lambat laun akan dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya membaik (Latunra dkk., 2009).
Hal-hal di ataslah yang melatar belakangi dilakukannya praktikum ini sehingga laporan ini dapat dikerjakan.
I.2. Tujuan
            Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari pengaruh cahaya terhadap perkembangan kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus dalam gelap dan terang.
I.3. Waktu dan Tempat
            Percobaan perkembangan kecambah dalam gelap dan terang dilaksanakan pada hari jumat, tanggal 04 april 2014, pukul 14.30-17.00 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar dengan pengamatan selama 7 hari, di lantai 3 Gedung Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

                Pertumbuhan adalah proses pertambahan volume yang irreversible (tidak dapat balik) karena adanya pembelahan mitosis atau pembesaran sel, dapat pula disebabkan oleh keduanya. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif. Tumbuhan bertambah tinggi dan besar disebabkan oleh dua hal. Pertama, pertambahan jumlah sel sebagai hasil pembelahan mitosis pada meristem (titik tumbuh) di titik tumbuh primer dan sekunder. Kedua, pertambahan komponen-komponen seluler dan adanya diferensiasi sel. Misalnya penyerapan air ke dalam vakuola yang menyebabkan sel membesar serta terbentuknya jaringan, organ, dan individu melalui proses diferensiasi sel dan atau / spesialisasi (Naufal, 2013).
Tumbuhan yang masih kecil, belum lama muncul dari biji dan masih hidup dari persediaan makanan yang terdapat di dalam biji, dinamakan kecambah (plantula). Awal perkecambahan dimulai dengan berakhirnya masa dormansi. Masa dormansi adalah berhentinya pertumbuhan pada tumbuhan dikarenakan kondisi lingkungan yang tidak sesuai. Berakhirnya masa dormansi ditandai dengan dengan masuknya air ke dalam biji suatu tumbuhan, yang disebut dengan proses imbibisi. Imbibisi terjadi karena penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan juga memicu perubahan metabolik pada embrio yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan pertumbuhan. Enzim-enzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada endosperma atau kotiledon, dan nutrien-nutriennya dipindahkan ke bagian embrio yang sedang tumbuh.Biji dapat berkecambah karena di dalamnya terdapat embrio atau lembaga tumbuhan. Embrio atau lembaga tumbuhan mempunyai tiga bagian, yaitu akar lembaga/calon akar (radikula), daun lembaga (kotiledon), dan batang lembaga (kaulikulus) (Rizki, 2012).
Pada proses pertumbuhan selalu terjadi peningkatan volume dan bobot tubuh peningkatan jumlah sel dan protoplasma. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan bukan merupakan besaran sehingga tidak dapat diukur. Perkembangan pada tumbuhan diawalai sejak terjadi fertilisasi. Calon Tumbuhan akan berubah bentuk dari sebuah telur yang dibuahi menjadi zigot, embrio, dan akhirnya menjadi sebatang pohon. Proses pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan diawali dengan aktivitas sintetis bahan mentah (bahan baku) berupa molekul sederhana dan molekul kompleks. Tahapan yang dilalui selama melangsungkan proses tersebut adalah sebagai berikut (Saktionon, 2006):
1.        Tahap pembelahan sel, yaitu sel induk membelah menjadi beberapa sel anak.
2.        Tahap pembentangan, yaitu pembesaran atau peningkatan volume sel anak. Pada sel tumbuhan, peningkatan tersebut biasanya disebabkanoleh penyerapan air kedalam vakuola.
3.        Tahap pematangan, yaitu perkembangan sel anak yang telah mencapai ukuran tertentu menjadi bentuk khusus (terspesialisasi) melalui proses diferensiasi. Pada akhirnya terbentuk jaringan, organ, dan individu.
Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun dari udara (dalam bentuk uap air ataupun embun). Efek yang terjadi membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar dan biji yang melunak (Latunra, 2009).
Mengukur pertumbuhan diperlukan pengukuran volume pertumbuhan. Volume pertumbuhan sangat bergantung terhadap perubahan status air di dalam pertumbuhan. Dua pertumbuhan yang sama pertumbuhannya, dapat berbeda volumenya jika yang satu diukur dalam keadaan turgor dan yang lain diukur dalam keadaan layu. Oleh karena itu, pengukuran pertumbuhan sering dilakukan dengan mengukur panjang, lebar, dan luas (Latunra, 2009).
Perkembangan bakal biji terbagi atas perkembangan endosperm, perkembangan embrio, dan struktur biji yang matang. Pada perkembangan endosperm, endosperm tumbuh dan berkembang lebih dahulu dibandingkan pertumbuhan dan perkembangan embrio. Endosperm kaya akan cadangan makanan. Cadangan makanan tersebut digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan embrio (Aryulina, 2007).
Pertumbuhan dan perkembangan embrio diawali dengan pembelahan zigot secara mitosis menghasilkan sel basal dan sel terminal. Sel basal berkembang menjadi suspensor yang berfungsi sebagai penghubung antara embrio dan kulit bakal biji, serta mengalirkan nutrisi dari tumbuhan induk atau endosperm. Sel terminal berkembang menjadi proembrio yang melekat pada suspensor. Embrio berkembang membentuk ujung batang dan ujung akar (Aryulina, 2007).
Banyak faktor yang mepengaruhi pertumbuhan dan perkembangan di antaranya adalah faktor genetik untuk internal dan faktor eksternal terdiri dari cahaya, kelembapan, suhu, air, dan hormon. Untuk proses perkecambahan banyak di pengaruhi oleh faktor cahaya dan hormon, walaupun faktor yang lain ikut mempengaruhi. Menurut leteratur perkecambahan di pengaruhi oleh hormon auksin, jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka akan tumbuh lebih cepat namun bengkok, hal itu disebabkan karena hormon auksin sangat peka terhadap cahaya, jika pertumbuhannya kurang merata. Sedangkan di tempat yang perkecambahan akan terjadi relatif lebih lama, hal itu juga di sebabkan pengaruh hormon auxin yang aktif secara merata ketika terkena cahaya. Sehingga di hasilkan tumbuhan yang normal atau lurus menjulur ke atas (Nurfadilah, 2014).
Istilah auksin berasal dari bahasa yunani yaitu auxien yang berarti meningkatkan. Auksin ini pertama kali digunakan Frits Went, seorang mahasiswa pascasarjana di negeri belanda pada tahun 1962, yang menemukan bahwa suatu senyawa yang belum dapat dicirikan mungkin menyebabkan pembengkokan koleoptil oat kerah cahaya. Fenomena pembengkokan ini dikenal dengan istilah fototropisme. Senyawa ini banyak ditemukan Went didaerah koleoptil. Aktifitas auksin dilacak melalui pembengkokan koleoptil yang terjadi akibat terpacunya pemanjangan pada sisi yang tidak terkena cahaya matahari (Salisbury dan Ross, 1995).

Auksin yang ditemukan Went, kini diketahui sebagai Asam Indole Asetat (IAA) dan beberapa ahli fisiologi masih menyamakannya dengan auksin. Namun tumbuhan mengandung 3 senyawa lain yang struktrurnya mirip dengan IAA dan menyebabkan banyak respon yang sama dengan IAA. Ketiga senyawa tersebut dapat dianggap sebagai auksin. Senyawa-senyawa tersebut adalah asam 4-kloroindol asetat, asam fenilasetat (PAA) dan asam Indolbutirat (IBA) (Dwidjoseputro, 1992).
Para ahli fisiologi telah meneliti pengaruh auksin dalam proses pembentukan akar lazim, yang membantu mengimbangkan pertumbuhan sistem akar dan system tajuk. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa auksin dari batang sangat berpengaruh pada awal pertumbuhan akar. Bila daun muda dan kuncup, yang mengandung banyak auksin, dipangkas maka jumlah pembentukan akar sampling akan berkurang. Bila hilangnya organ tersebut diganti dengan auksin, maka kemampan membentuk akar sering terjadi kembali (Salisbury dan Ross, 1995).
Auksin juga memacu perkembangan akar liar pada batang. Banyak spesies berkayu, misalnya tanaman apel (Pyrus malus), telah membentuk primordia akar liar terlebih dahulu pada batangnya yang tetap tersembunyi selama beberapa waktu lamanya, dan akan tumbuh apabila dipacu dengan auksin. Primordia ini sering terdapat di nodus atau bagian bawah cabang diantara nodus. Pada daerah tersebut, pada batang apel, masing-masing mengandung sampai 100 primordia akar. Bahkan, batang tanpa primordia sebelumnya kan mampu menghasilkan akar liar dari pembelahan lapisan floem bagian luar (Salisbury dan Ross, 1995).
Dalam kultur jaringan ada 2 golongan ZPT yang sangat penting, yaitu sitokinin dan auksin. Zat pengatur tumbuh ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan. Auksin banyak digunakan dalam kultur jaringan untuk perpanjangan sel, pembentukan akar adventif, dan menghambat pembentukan tunas adventif dan tunas ketiak, sedang NAA (1-naphtalene acetic acid) adalah ZPT yang termasuk dalam golongan auksin. Sitokinin adalah senyawa turunan adenine dan berperan dalam pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Sitokinin digunakan untuk merangsang terbentuknya tunas, berpengaruh dalam metabolisme sel, dan merangsang sel dorman serta aktivitas utamanya adalah mendorong pembelahan sel. Menurut Hu dan Wang (1983), George dan Sherington (1993), pada kultur jaringan, sitokinin berperan dalam mendorong pembelahan sel atau jaringan yang digunakan sebagai eksplan dan merangsang perkembangan pucuk-pucuk tunas. Dalam perbanyakan in vitro, sitokinin digunakan untuk mengatasi dormansi apikal dan mempertinggi percabangan tunas lateral dari ketiak daun (Karjadi dan Buchory, 2008).
BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1. Alat
            Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah nampan, penggaris, lidi dan wadah.
III.2. Bahan
            Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah kacang hijau Phaseolus radiatus, kapas, koran, dan air.
III.3. Prosedur Percobaan
            Adapun prosedur dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Direndam biji yang banyak sebanyak 30  biji di dalam air selama 10 menit.
2.      Dipilih biji kacang hijau yang tidak mengapung di air yang menandakan kualitasnya baik dan cocok.
3.      Disiapkan 2 buah nampan yang telah diisi dengan koran dan kapas di dasarnya.
4.      Ditaruh 15 biji kacang hijau di atas nampan dan diberi jarak yang sama.
5.      Ditempatkan 1 buah nampan di tempat terang dan 1 buah nampan di tempat gelap.
6.      Dilakukan pengamatan selama seminggu untuk dilihat perkembangan tanaman dan dicatat hasilnya.

DAFTAR PUSTAKA


Adriana, M., 2012. http://smakita.net/pengaruh-hormon-terhadap-pertumbuhan-dan-pekembangan-tumbuhan/, diakses pada hari sabtu 12 april 2014 pukul 09.55 WITA.

Aryulina, D., 2007. Biologi 3. Esis, Jakarta.

Dwidjoseputro, D., 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Karjadi, A. K., dan Buchory, A., 2008. Pengaruh Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Jaringan Meristem Kentang Kultivar Granola, J. Hort. Vol 18 (380-384).

Latunra, A. I., Eddyman, W. F., dan Ellis, T., 2009. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Naufal, M. H., 2013. Laporan Pengamatan Perkecambahan Gelap dan terang http://farischarming.wordpress.com/laporan-pengamatan-pengaruh-cahaya terhadap-pertumbuhan-dan-perkembangan-kacang-hijau/, diakses pada hari jumat 04 april 2014, pukul 19.23 WITA.
Nurfadilah, Arafah, 2014.  Laporan Praktikum Perkecambahan Gelap Dan Terang http://anurfadlilah.tumblr.com/post/47687954512/laporan-praktikum-perkecambahan-gelap-dan-terang, diakses pada hari jumat 04 april 2014, pukul 19.55 WITA.

Rizki, 2012. Percobaan Pertumbuhan Perkecambahan  http://rizki2812.wordpress.com/2012/09/04/percobaan-pertumbuhan-perkecambahan/, diakses pada hari jumat 04 april 2014, pukul 19.33 WITA.
Saktionon, 2006. Seribu Pena Biologi. Erlangga, Jakarta.

Salisbury, F. B., dan Ross, C. W., Ross 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Institut Teknologi Bandung Press, Bandung.


Percobaan Daerah Tumbuh

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
            Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan volume secara irreversibel karena banyak organ tanaman yang telah dewasa mengalami perubahan volume sepanjang siang dan malam karena perubahan kandungan air turgitasnya. Pada umumnya daerah pertumbuhan terletak di bagian bawah meristem apikal dari tunas dan akar. Kebanyakan pertumbuhan terjadi pada fase pendewasaan sel hanya sedikit kenaikan volumenya (Latunra dkk., 2009).
Pada umumnya daerah pertumbuhan terletak pada bagian bawah meristem apikal dari tunas dan akar. Pada beberapa jenis tumbuhan, daerah pertumbuhannya terletak pada bagian atas setiap buku-buku (nodus). Pertumbuhan juga terjadi pada bagian-bagian lainnya, sebagai contoh, dalam daun dimana sel-sel membesar sampai pada tingkat tertentu. Pertumbuhan secara lateral terjadi dengan membesarnya sel-sel yang terletak pada sisi-sisi jaringan kambium (Kaufman, dkk., 1975).
Ujung akar dan ujung tajuk pembuluh dan tepat di atas nodus tumbuhan monokotil, atau di dasar daun rerumputan, meristem apikal tajuk dan meristem apikal akar terbentuk selama proses perekembangan embrio saat pembentukan biji, dan disebut meristem primer. Kambium pembuluh dan daerah meristematik pada nodus monokotil daun rerumputan tidak mudah dikenali, kecuali setelah terjadinya perkecambahan, dinamakan meristem sekunder (Latunra, dkk., 2009).
Hal-hal di ataslah yang melatarbelakangi dilakukannya praktikum ini sehingga laporan ini dapat dikerjakan.
I.2. Tujuan
            Tujuan dilaksanakannya percobaan ini adalah unutk mengamati daerah tumbuh pada akar dan batang dari kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris.
I.3. Waktu dan Tempat
Percobaan dareh tumbuh dilaksanakan pada hari jumat, tanggal 11 april 2014, pukul 14.00-17.00 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dengan pengamatan selama 5 hari, di lantai tiga Gedung Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan adalah suatu pertambahan dalam ukuran pertambahan dalam ukuran yang bersifat irreversible. Karena bersifat multi sel maka pertumbuhan bukan saja dalm volume tetapi juga pertambahan dalam hal bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tinggkat kerumitan.Proses pertumbuhan sebagian besar terjadi dalam fase pembelahan dan pendewasaan sel. Umumya daerah pertumbuhan terletak pada bagian bawah mesitem apical dari tunas akar. Pada rerumputan dan monokotil lainnya daerah pertumbuhan terletak di bagian atas tiap-tiap buku atau nodus. Pertumbuhan jika terjadi pada bagian-bagian lainnya misalnya pada daun sel-sel akan membesar pada batas tertentu. Pertumbuhan lateral terjadi dengan membesarnya sel-sel yang terletak pada sisi-sisi jaringan kambium. Pertumbuhan bagian pucuk dan akar disebabkan adanya pembentukan sel-sel baru oleh jaringan meristematik (embrionik) pada titk tumbuh diikuti dengan pertumbuhan dan differensiasi sel-selnya,bila mana tumbuhan mencapai ukuran dewasa maka terbentuk bunga (Fahn, 1992).
Pertumbuhan adalah proses kenaikan massa dan volume yang irreversible (tidak kembali ke asal) karena adanya tambahan substansi dan perubahan bentuk yang terjadi selama proses tersebut. Selama pertumbuhan terjadi pertambahan jumlah dan ukuran sel. Pertumbuhan dapat diukur serta dinyatakan secara kuantitatif. Perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan atau tingkat yang lebih sempurna. Perkembangan tidak dapat dinyatakan secara kuantitatif. Perkembangan merupakan proses yang berjalan sejajar dengan pertumbuhan (Hasbiah, 2013).
Pertumbuhan adalah suatu pertambahan dalam ukuran pertambahan dalam ukuran yang bersifat irreversible. Karena bersifat multi sel maka pertumbuhan bukan saja dalam volume tetapi juga pertambahan dalam hal bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tinggkat kerumitan. Prosespertumbuhan sebagian besar terjadi dalam fase pembelahan dan pendewasaan sel. Umumya daerah pertumbuhan terletak pada bagian bawah mesitem apikal dari tunas akar. Pada rerumputan dan monokotil lainnya daerah pertumbuhan terletak di bagian atas tiap-tiap buku atau nodus (Fahn, 1992).
Pertumbuhan juga terjadi pada bagian-bagian lainnya misalnya pada daun sel-sel akan membesar pada batas tertentu. Pertumbuhan lateral terjadi dengan membesarnya sel-sel yang terletak pada sisi-sisi jaringan kambium. Pertumbuhan bagian pucuk dan akar disebabkan adanya pembentukan sel-sel baru oleh jaringan meristematik (embrionik) pada titk tumbuh diikuti dengan pertumbuhan dan differensiasi sel-selnya, bila mana tumbuhan mencapai ukuran dewasa maka terbentuk bunga (Fahn, 1992).
Pertumbuhan dapat berarti pertambahan volume ukuran. Karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertambahan itu bukan hanya dalam volume, tetapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyak protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pada banyak kajian, pertumbuhan perlu diukur. Teorinya, semua ciri pertumbuhan yang disebutkan tidai bisa diukur, tetapi ada dua macam pengukuran yang lazim digunakan untuk mengukur pertambahan volume atau massa. Pertambahan volume sering ditentukan dengan cara mengukur perbesaran kesatu atau dua arah, seperti panjang (misalnya tinggi batang), atau luas (misalnya luas daun). Pengukuran volume, misalnya dengan cara pemindahan air, bersifat tidak merusak, sehingga tumbuhan yang sama dapat diukur berulang-ulang pada waktu yang berbeda. Pertambahan massa sering ditentukan dengan cara memanen seluruh tumbuhan atau bagian yang diinginkan, dan menimbangnya cepat-cepat sebelum air terlalu banyak menguap dari bahan tersebut (Salisbury dan Ross, 1995).
Pembelahan mitotik pada zigot dan nukleus endosperma menghasilkan biji yang terdiri atas (Kimball, 1992):
1.      Plumula terdiri atas dua daun embrionik, yang akan menjadi daun-daun sejati yang pertama tumbuhan bibit, dan tunas terminal (apikal). Tunas ini adalah moristem dan disanalah akan terjadi pertumbuhan batang yang selanjutnya.
2.      Hipokotil dan radikula, yang masing-masing akan tumbuh menjadi batang dan akar primer.
3.      Satu atau dua kotiledon, yang menyimpan makanan untuk digunakan biji yang berkecambah. Angiospermae yang membentuk biji dengan dua kotiledon disebut dikotil. Kacang merupakan contoh umum. Yang hanya membentuk satu kotiledon disebut monokotil. Jagung dan rumput-rumputan adalah termasuk monokotil.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan secara luas dapat di kategorikan sebagai faktor eksternal (lingkungan) dan factor internal (genetik) Dikelompokkan sebagai berikut (Alvionita, 2012):
A.    Faktor Eksternal:
1.      Iklim: Cahaya, temperatur, air, panjang hari, angin dan gas.
2.      Edafatik (tanah): tekstur, struktur, bahan organic, dan kapasitas pertukaran kation.
3.      Biologis: Gulma, serangga, organisme penyebab penyakit, nematoda, macam- macam tipe herbivore, dan mikro organisme tanah.
B.     Faktor internal:
1.      Ketahanan terhadap tekanan iklim,tanah dan biologis.
2.      Laju fotosintesis.
3.       Respirasi
4.      Klorofil, karotein, dan kandungan pigmen lainnya.
5.      Pembagian hasil asimilasi N.
6.      Tipe dan letak merisitem.
7.      Kapasitas untuk menyimpan cadangan makanan.
8.      Aktivitas enzim.
9.      Pengaruh langsung gen ( Heterosis,epistasi ).
10.  Differensiasi.
Terdapat 2 macam pertumbuhan yaitu (putri, 2012) :
1.      Pertumbuhan Primer, terjadi sebagai hasil pembelahan sel-sel jaringan meristem primer. Berlangsung pada embrio, bagian ujung-ujung dari tumbuhan seperti akar dan batang. Embrio memiliki 3 bagian penting :
§  tunas embrionik yaitu calon batang dan daun
§  akar embrionik yaitu calon akar
§  kotiledon yaitu cadangan makanan
Pertumbuhan tanaman dapat diukur dengan alat yang disebut auksanometer. Daerah pertumbuhan pada akar dan batang berdasar aktivitasnya terbagi menjadi 3 daerah yaitu (Putri, 2012):
§  Daerah pembelahan sel-sel di daerah ini aktif membelah (meristematik).
§  Daerah pemanjangan berada di belakang daerah pembelahan,
§  Daerah diferensiasi bagian paling belakang dari daerah pertumbuhan.
2.      Pertumbuhan sekunder, aktivitas sel-sel meristem sekunder yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan ini dijumpai pada tumbuhan dikotil, gymnospermae  dan menyebabkan membesarnya ukuran (diameter) tumbuhan. Prosesnya yaitu mula-mula kambium hanya terdapat pada ikatan pembuluh, yang disebut kambium vasis atau kambium intravasikuler. Fungsinya adalah membentuk xilem dan floem primer. Selanjutnya parenkim akar/batang yang terletak di antara ikatan pembuluh, menjadi kambium yang disebut kambium intervasis. Kambium intravasis dan intervasis membentuk lingkaran tahun berbentuk konsentris. Kambium yang berada di sebelah dalam jaringan kulit yang berfungsi sebagai pelindung. Terbentuk akibat ketidakseimbangan antara permbentukan xilem dan floem yang lebih cepat dari pertumbuhan kulit  dimana ke dalam membentuk feloderm yatu sel-sel hidup dan ke luar membentuk felem yaitu sel-sel mati.
Peristiwa penting dalam diferensiasi embrio selama perkecambahan adalah dimulainya perkembangan sel pengangkut dalam prokambium. Waktu perkembangan jaringan pembuluh berkaitan dengan berbagai peristiwa fisiologis. Dalam keping biji, metabolisme diaktifkan dan dikendalikan oleh rangsangan dari sumbu embrio. Gerakan rangsangan itu nampaknya jauh bersamaan dengan terjadinya hubungan vaskular antara sumbu dengan keping biji.
Baik pada monokotil maupun dikotil, perkecambahan dapat berjenis hipogeal, dengan keping atau kedua keping biji terbungkus oleh kulit biji dan tetap berada dibawah permukaan tanah. Pada jenis perkecambahan epigeal, keping biji terangkat keatas permukaan tanah oleh sumbu embrio yang memanjang (Hidayat, 1995).
Pada embrio telah dimulai organisasi tumbuhan dan susunan jaringannya, yakni protoderm, prokambium, dan moristem dasar. Embrio adalah struktur bersumbu dengan kutub akar dan kutub batang. Polaritas ini, yang telah terlihat dalam susunan sitologis sel telur, tetap menjadi faktor morfogenetik yang dominan dalam diferensiasi kecambah. Efek polaritas terungkap dengan jelas pada perubahan struktur dan aktivitas fisiologis dari ujung sumbu yang satu keujung sumbu yang lain. Pada kecambah dikotil yang tidak memiliki floem internal, jaringan pembuluh hipokotil disebelah atas terbagi menjadi beberapa berkas yang dapat diikuti hingga keping biji. Diantara pucuk dan akar terdapat hubungan antara sistem berkas pembuluh yang silindris pada akar dan sistem berkas pembuluh di hipokotil sebelah atas (Hidayat, 1995).
Pembelahan mitotik pada zigot dan nukleus endosperma menghasilkan biji yang terdiri atas (Kimball, 1992) :
a)      Plumula terdiri atas dua daun embrionik, yang akan menjadi daun-daun sejati yang pertama tumbuhan bibit, dan tunas terminal (apikal). Tunas ini adalah moristem dan disanalah akan terjadi pertumbuhan batang yang selanjutnya.
b)      Hipokotil dan radikula, yang masing-masing akan tumbuh menjadi batang dan akar primer.
c)      Satu atau dua kotiledon, yang menyimpan makanan untuk digunakan biji yang berkecambah. Angiospermae yang membentuk biji dengan dua kotiledon disebut dikotil. Kacang merupakan contoh umum. Yang hanya membentuk satu kotiledon disebut monokotil. Jagung dan rumput-rumputan adalah termasuk monokotil.
Kacang merah Phaseolus vulgaris, memilki kulit luar biji yang merupakan bekas pelekatan dengan tali pusar, biasanya kelihatan kasar dan mempunyai warna yang berlainan dengan bagian lain kulit biji. Pusar biji jelas kelihatan. Perkecambahannya terjadi di atas tanah (epigeal), yaitu jika pada perkecambahan, karena pembentangan ruas batang dibawah daun lembaga, daun lembaganya lalu terangkat keatas, muncul diatas tanah, daun lembaga kemudian berubah warna menjadi hijau, dapat digunakan untuk asimilasi, tetapi umurnya tidak panjang. Daun lembaga itu kemudian gugur, dan sementara itu pada kecambah telah terbentuk daun-daun normal yang dapat melakukan tugas asimilasi. Bakal buahnya beruang satu, bakal biji yang beruang satu dapat tersusun atas satu daun buah saja, putik tunggal, yaitu jika putik hanya tersusun atas sehelai daun buah saja (Tjitrosoepomo, 1989).
Masuknya air ke dalam biji-bijian hingga mencapai titik jenuh pada proses perendaman membutuhkan waktu yang cukup alam. Perendaman biji-bijian pada suhu ruang dengan waktu yang lama dapat beresiko besar terkontaminasi mikroba dan dapat berpengaruh terhadap kualitas produk, misalnya warna, rasa dan bau (Agustina, dkk., 2013).


BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1. Alat
            Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah toples plastik, lempeng kaca dan penggaris.
III.2. Bahan
            Adapun bahan dari percobaan ini adalah kacang merah Phaseolus vulgaris, tinta Hi-tech, karet gelang, air da tissue.
III.3. Prosedur Percobaan
            Prosedur percobaan adalah sebagai berikut:
1.      Dikecambahkan biji kacang merah Phaseolus vugaris sebanyak mungkin selama 14 hari.
2.      Diambil 6 kecambah kacang merah tersebut dari tempat tumbuhnya dengan hati-hati agar kecambah yang diambil memiliki akar yang lurus.
3.      Diberi tanda pada ujung akar kecambah dengan tinta sebanyak 10 garis dengan interval 2 mm sekurang-kurangnya 2 kecambah dan 1 kecambah lagi sebagai kontrol yang diberi tanda hanya 1 garis dengan interval 2 cm.
4.      Diberi tanda pada batang kecambah dengan tinta sebanyak 10 garis dengan interval 2 mm sekurang-kurangnya 2 kecambah dan 1 kecambah lagi sebagai kontrol yang diberi tanda hanya 1 garis dengan interval 2 cm.
5.      Diletakkan kecambah dengan kedudukan tegak pada lempeng kaca yang telah dibalut tissue dengan menggunakan karet gelang.
6.      Dimasukkan lempeng-lempeng kaca yang telah ditempeli kecambah ke dalam toples yang telah berisi sedikit air, kemudian ditempatkan topels tersebut di tempat gelap.
7.      Diukur jarak masing-masing interval pada setiap kecambah yang bertindak sebagai perlakuan setelah 24 jam dan dibandingkan dengan jarak interval pada kecambah yang bertindak sebagai kontrol
8.      Dicatat perubahan yang diamati setiap hari selama 5 hari dan dimasukkan ke dalam tabel pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, N., Sri, W., Warji, Tamrin, 2013. Pengaruh Perendaman terhadap Koefisien Difusi dan Sifat Fisik Kacang Merah Phaseolus vulgaris. Jurnal Teknik Pertanian Lampung. Vol 2 (35-42).
Alvionita, Finny, 2012. http://phyovhyo.wordpress.com/2012/03/09/daerah-tumbuh/, diakses pada hari selasa 15 april 2014, pukul 08. 15 WITA.
Fahn, Albert, 1992. Anatomi Tumbuhan Edisi ke III. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hasbiah, 2013. http://kaiean.blogspot.com/2013/05/laporan-praktikum-spt-ii-daerah-tumbuh.html, diakses pada hari selasa 15 april 2014, pukul 08.14 WITA.
Hidayat, E.B., 1995, Anatomi Tumbuhan Berbiji. Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Kaufman, P. B., Labavitch, A. A. Prouty, N.S Ghosheh, 1975. Laboratory Experiment in Plant Physiology. Macmillan Publishing Co., Inc. New York.
Kimball, J.W., 1992.  Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Latunra, A. I., Eddyman, W. F., dan Ellis, T., 2009. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Pramono, A., 2012. http://brewoktea.blogspot.com/2012/08/pertumbuhan-dan-perkembangan-tumbuhan.html, diakses pada hari selasa 15 april 2014, pukul 09.18 WITA.
Putri, A. H., 2012. http://mimetakamine.blogspot.com/2012/11/cahaya-dan-pertumbuhan.html, diakses pada hari minggu 13 april 2014, pukul 10.55. WITA.
Salisbury, F.B dan C.W. Ross., 1992. Fisiologi Tumbuhan. Jilid Tiga Edisi Keempat. Erlangga, Jakarta.
Tjitrosoepomo, G., 1989. Morfologi Tumbuhan. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.